[Aku dan air]
Awalnya aku mikir kenapa anak kecil itu bisa sebahagia sedemikian bahagianya.
Senyumnya mekar, tawanya menggeleggar.
Lelahnya tak nampak, meski harus satu jam lebih menyelusuri jalan serta terik matahari yang menusuk.
Lalu aku flashback dimasa kecil ku.
Dialog dalam hati, "aku dulu juga gitu.
Jika air pasang aku Merengek-rengek meminta izin untuk berenang.
Ga diizinin, nangis.
Lari kekamar Terus ngelempar barang kemana-mana.
Setelah itu capek, ketiduran.
Gajadi berenangan" Haha..
Dewasa kini, aku menyadari.
Ada alasan-alasan yang Orangtua simpan mengapa pada saat itu tidak diizinkan.
Ada alasan-alasan yang kelak orangtua sudah persiapkan bahwa kelak 'kau akan memahami dengan sendirinya'.
Kini aku meyakini, bahwa pada saat itu Orangtua juga tak sepenuhnya tersenyum karna telah melarang. Ada pergejolakan besar dihatinya.
Karna bagi anak sebuah larangan itu akan menghapus senyum dan tawa nya. Lalu bagi orangtua, melihat senyum dan tawa anak adalah suntikan nafas terbesar.
Sedangkan bagi anak, bermain air itu kebahagian yg sederhana.
Samarinda, 12 Februari 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar