Senyuman Hati, Tentang KITA..
Aku teringat awal pertemuan kita.
Pertemuan disuatu tempat yang penuh berkah.
Berkah sekali. Disaat orang orang asik mendengarkan, aku dengan sokrab-nya(sok akrab) dengan kamu. Ngajak kamu ngobrol. Lirik lirik kamu. Senyum senyumin kamu.
Oya ngajak ngobrol kamu itu penuh tenaga ya.
Iya, kamu yg super diam aku yg super cerewet. Kamu yang khusyuk mendengarkan, aku yang riweh riweh ga jelas.
Haa. Allah itu Maha baik banget ya, nyatukan perbedaan kita.
Meskipun terkadang kita ibarat air dan minyak didalam wajan, bersama tapi akan menimbulkan suara suara bising peletakpelitik gitu..
-Kamu bicara-
Kamu benar, aku tak pandai berskenario marah dan melawan amarahmu.
Aku tak pandai. Sebab senyuman hati ini lebih memekar ketimbang bara api yg hanya sebuah kuncup layu. Kamu benar, ta'aruf kita emang terlalu cepat tapi bukankah waktu yang singkat itulah yang menyatukan ? Aku setuju dengan kamu, ta'aruf itu seharusnya selamanya.
Mengenal dan saling mengenali.
Oya Maaf ya, atas ketidak nyamanan yg sudah aku perbuat. Aku, aku cuma menanyakan.
Tak ada niat lain. Cuma perhatian. Emang perhatian dengan sahabat sendiri ga boleh ?
Hehe, boleh kan yaa. Mungkin akunya saja saja yg tidak bisa memahami karakter kamu. Iya kamu.
Untuk segala perbedaan kita, aku berterimakasih karna kamu telah menjadi Teman Hijrahku. Kita tetap sesurga kan ?
-Aku Bicara-
Kamu...
Kamu paling bisa mencairkan amarahku.
Mukamu dan ekspresimu yang polos itu membuatku tak tega. Aih, lagian siapa yg tega membuat kamu- teman sesurga- merasa bersalah gitu.
"Kita hanya perlu bicara dari hati kehati. Memperbaiki trouble yang tak pernah berhenti. Mendengarkan satu sama lain. Dan tidak ada yg merasa 'aku yang benar'. Menurunkan ego. Sedikit saja." Itukan yang selalu ingatkan ke aku.
Untuk segala perbedaan kita, aku berterimakasih karna kamu telah menjadi Teman Hijrahku. Kita tetap sesurga kan ?
Samarinda, 24 Desember 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar