Masih terbesit jelas senyuman itu, nampak berseri.
Menggoda amarahku untuk berhenti.
Ya, kamu berhasil.
Amarahku meleleh, seperti es batu itu yang kau sisakan digelas minummu.
Hei, tak seperti biasanya kamu. Meninggalkan hal yg kau nikmati.
Kamu berjalan arah pulang.
Kamu berjalan arah pulang.
Aku tak perlu mencegahmu, yang aku perlukan hanyalah memalingkan wajah agar kamu tak merasa kuperhatikan (aih, sebegitu jaimnya aku) melirik perlahan-lahan, berharap kau tak pergi.
(Ini apalagi Tuhan..)
Dalam hitungan 240 detik, tak nampak bayanganmu. Hilang. Oke, kau meninggalkanku. Berdua. Dengan penyesalan. Lagi.
Mengetik "nape lu tega amat ninggalin gua sendirian diruang pertemuan ?" Chat siap meluncur and send..
Lama..
Pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari si-tuannya.
Lama. Lama sekali.
Entah berapa banyak panggilan tak terjawab yg aku panahkan padanya. Lagilagi tak ada respon. Kosong. Melompong.
Sunyi seketika. Aku terdampar pada sujud sujud yang kurindukan. Bersama-Nya kusampaikan kesalahanku. Dan hujan mulai membasahi hatiku. Rintik rintik yg menyembuhkan. Luka. Aku tenggelam. Lama bersama-Nya.
Kamu, terimakasih dariku..
Sunyi seketika. Aku terdampar pada sujud sujud yang kurindukan. Bersama-Nya kusampaikan kesalahanku. Dan hujan mulai membasahi hatiku. Rintik rintik yg menyembuhkan. Luka. Aku tenggelam. Lama bersama-Nya.
Kamu, terimakasih dariku..
Samarinda, 20 Desember 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar